“IMPLEMENTASI PETUNJUK UMUM KATEKESE: KONGGREGASI UNTUK IMAM DALAM PROGRAM PEMBINAAN BAGI CALON KATEKIS DI STKIP WIDYA YUWANA MADIUN”

1. Latar Belakang Masalah
Ketika melukiskan perjumpaan Kristus yang bangkit dengan para murid-Nya, semua Penginjil menutup pemberitaannya dengan perintah misioner:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:19-20; bdk. Mrk 16:15-18; Luk 24:46-49; Yoh 20:21-23)
Perintah untuk mewartakan dan mengajar adalah amanat terakhir Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya. Untuk melaksanakan amanat tersebut, Yesus mencurahkan Roh Kudus bagi mereka.
Gereja melestarikan pewartaan dan pengajaran – yang dahulu juga dikerjakan para Rasul – sebagai pelaksanaan amanat Yesus Kristus. Dokumen Konsili Vatikan II, dalam Dekrit Tentang Kegiatan Misioner Gereja, Ad Gentes (AG) artikel 1 menerangkan demikian:
Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hakiki sifat katoliknya, menaati perintah Pendiri-Nya (lih. Mrk 16:16), Gereja sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang. Sebab para Rasul sendiri, yang menjadi dasar bagi Gereja, mengikuti jejak Kristus, “mewartakan sabda kebenaran dan melahirkan Gereja-gereja”. Adalah tugas para pengganti mereka melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah terus maju dan dimuliakan” (2Tes 3:1), dan Kerajaan Allah diwartakan dan dibangun di mana-mana.

Senada dengan pernyataan di atas, Paus Paulus VI menyatakan bahwa mewartakan Injil merupakan panggilan yang khas bagi Gereja. Menurut Paus, mewartakan Injil kepada segala bangsa merupakan perutusan hakiki Gereja, yang semakin mendesak pada zaman sekarang (bdk. EN 14). Paus menandaskan: “Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam.”

Perutusan Gereja untuk mewartakan Injil kepada semua orang terwujud melalui beberapa hal seperi evangelisasi, katekese, liturgi, dan sebagainya. Evangelisasi diperlukan untuk membangkitkan iman, sehingga seseorang ingin mengenal lebih dalam iman Katolik dalam proses katekese. Dan proses katekese ini akan menuntun seseorang kepada kepenuhan hidup kristiani, yang dimanifestasikan dalam sakramen inisiasi (Baptis, Penguatan, dan Ekaristi). Katekese memainkan peranan yang penting sekali dalam misi pewartaaan Injil. Katekese adalah upaya yang utama untuk mengajarkan dan mengembangkan iman (bdk. Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik; “Catechesi Tradendae” tgl. 16 Oktober 1979, AAS, 71, 1979).

Paus Yohanes Paulus II, dalam anjuran apostolik tentang katekese masa kini: Catechesi Tradendae (CT) artikel 1, menekankan pentingnya penyelenggaraan katekese sebagai hakikat perutusan Gereja.
Penyelenggaraan katekese oleh Gereja selalu dipandang sebagai salah satu tugasnya yang amat penting. Sebab sebelum Kristus naik menghadap Bapa-Nya sesudah kebangkitan-Nya, Ia menyampaikan kepada para Rasul perintah-Nya yang terakhir, yakni menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya, dan mengajar mereka mematuhi segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya.

Sejak Gereja awali, tugas berkatekese telah dipercayakan kepada Gereja. Tugas ini lalu diteruskan oleh Gereja sampai sekarang.

Paus menegaskan bahwa berkatekese merupakan hak dan kewajiban Gereja. Pernyataan yang senada, terdapat dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) tahun 1983. KHK Kanon 774 – § 1 menerangkan bahwa perhatian terhadap katekese, di bawah bimbingan otoritas gerejawi yang legitim, menjadi kewajiban dari semua anggota Gereja, masing-masing sesuai dengan perannya. Maka, katekese perlu mendapat prioritas dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota Gereja.

Oleh karena kegiatan katekese merupakan hakikat perutusan Gereja, maka disediakanlah berbagai petunjuk tentang katekese. Paus Paulus IV, pada tanggal 18 Maret 1971, secara resmi menyetujui buku Petunjuk Umum Kateketik yang telah disiapkan oleh Konggregasi untuk Klerus. Ini adalah petunjuk yang sampai sekarang pun masih merupakan dokumen yang mendasar untuk mendorong serta membimbing pembaharuan katekese dalam Gereja semesta (bdk. CT 2). Paus Yohanes Paulus II juga memberikan perhatian yang besar terhadap perkembangan katekese masa kini. Beliau memberikan anjuran apostolik tentang katekese masa kini Catechesi Tradendae (CT), kepada para uskup, klerus dan segenap umat beriman.

Selain menerbitkan dokumen-dokumen Gereja, juga diadakan kegiatan kursus maupun pelatihan katekese, pengadaan buku-buku tentang katekese, serta situs-situs internet yang menyediakan artikel tentang katekese. Sejalan dengan upaya itu, didirikan pula Komisi-komisi Kateketik (Komkat), Pusat-pusat Kateketik (Puskat), serta lembaga-lembaga pendidikan Kateketik. Ini semua dibuat supaya katekese semakin berjalan sesuai dengan harapan Kristus.

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Widya Yuwana Madiun adalah salah satu lembaga pendidikan Kateketik yang mendidik calon katekis. Dalam sejarahnya, lembaga ini telah menghasilkan kader-kader Gereja yang berkarya di berbagai wilayah di Indonesia. Medan karya lulusannya beragam. Ada yang menjadi imam, rohaniwan/i, katekis paroki/keuskupan, guru agama Katolik di sekolah, dosen, pegawai negeri sipil (PNS), tenaga bimbimbingan mental (Bintal) di TNI/ POLRI, serta menjadi tenaga pastoral di rumah sakit. Usaha lembaga ini dalam memberikan perhatiannya pada pendidikan dan pembinaan calon katekis, turut membantu perkembangan katekese.

Gereja telah mengerjakan banyak hal guna memajukan katekese. Lalu sejauh mana keberhasilan upaya-upaya itu? Pertanyaan ini mendorong penulis untuk menelusuri dengan bijaksana kenyataan- kenyataan yang sudah terjadi. Tentu ada hal-hal yang positif, namun harus disadari pula hal-hal yang negatif.
The General Directory for Catechesis (DCG) 2 mencatat beberapa hal positif dalam karya katekese, yaitu: munculnya kesadaran untuk berkatese secara lebih baik, munculnya kesadaran pembaharuan dalam katekese baik secara materi maupun metodologi, dan katekese yang semakin memperkuat iman.
The thirty-year period between the conclusion of the Second Vatican Council and the threshold of the third millennium is without doubt most providential for the orientation and promotion of catechesis. It has been a time in which the evangelizing vigour of the original ecclesial community has in some ways re-emerged. It has also seen a renewal of interest in the teaching of the Fathers and has made possible a return to the catechumenate. Since 1971, the General Catechetical Directory has oriented the particular Churches in their renewal of catechesis and has acted as a point of reference for content and pedagogy, as well as for methodology.
The course of catechesis during this same period has been characterized everywhere by generous dedication, worthy initiatives and by positive results for the education and growth in the faith of children, young people and adults.

Akan tetapi, pada saat yang sama, juga disadari bahwa terjadi krisis dalam katekese. Lebih lanjut, DCG menyebut mengenai ketidaktepatan doktrinal, pengaruh-pengaruh dari evolusi budaya global, serta pertanyaan-pertanyaan dari luar bidang katekese yang sering mempermiskin mutu katekese.
"At the same time, however, there have been crises, doctrinal inadequacies, influences from the evolution of global culture and ecclesial questions derived from outside the field of catechesis which have often impoverished its quality".

Pernyataan senada dengan yang diungkapkan DCG juga muncul dalam Lokakarya Katekese Keuskupan Surabaya. Peserta lokakarya menemukan hal-hal baik sekaligus aneka keprihatinan dalam katekese. Ada kesadaran untuk berkatekese secara lebih baik sambil terus mengadakan pembaharuan-pembaharuan. Namun juga disadari, ternyata katekese selama ini hanya berkutat pada soal iman, dogma, dan ajaran Gereja saja. Akibatnya, katekese dirasa kurang menjawab aneka permasalahan umat maupun kehidupan berbangsa. Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Surabaya, Rm. DB. Karnan Ardijanto, Pr mengungkapkan:
“Katekese di Keuskupan Surabaya belum ditempatkan dalam kerangka hidup Gereja setempat atau belum menjadi perhatian dibandingkan fungsi hidup Gereja yang lain. Hal ini terjadi karena hidup beriman dan berjemaat di Keuskupan Surabaya masih terpusat pada ibadat. Artinya, ibadat menjadi kegiatan pokok bagi para pekerja pastoral di paroki dan stasi”.
(Hasil Lokakarya Katekese Keuskupan Surabaya – di Sasana Krida Jatijejer, Trawas, Mojokerto, pada tanggal 3-6 Juli 2006).

Refleksi bersama dalam pertemuan Steering Commitee (pertemuan bersama sebelum Temu Komkat Regio Jawa) di Puh Sarang, Kediri pada bulan Juli 2008, menyadari sebuah kebutuhan untuk mewujudkan katekese yang menyapa dan menyentuh perspektif manajemen pastoral. Kebutuhan katekese itu muncul karena keprihatinan akan ketidaksinambungan karya katekese. Katekese dianggap kurang bermakna (insignifikan) dan kurang relevan (irrelevansi). Di lain sisi, sebaik apapun sebuah karya katekese, dibutuhkan sebuah ”self-assesment”, yakni kemampuan pribadi katekis mengolah pribadi, agar ia pun mampu mengolah pribadinya dalam tim kerja di Komkat Keuskupannya masing-masing.
Citra katekese saat ini masih belum sesuai dengan harapan Gereja. Hal itu disebabkan karena beberapa kelemahan pokok dalam katekese. Kelemahan itu berkaitan dengan: Isi katekese yang kurang sesuai dengan situasi dan kondisi umat, metodologi yang kurang tepat, dan pelayan katekese yang kurang terampil. Perlu usaha terus menerus dari semua pihak dalam mengupayakan citra katekese yang semakin sesuai dengan harapan Gereja sehingga berdaya guna.

Dari berbagai kenyataan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa katekese mengalami beberapa degradasi. Degradasi itu terlihat antara lain dalam permasalahan katekis.
Dalam sebuah pertemuan dengan Uskup Agung Yangon, Mgr Charles Bo SDB, pada 28 Agustus 2006, para katekis Myanmar menyadari kurangnya keterampilan yang mereka miliki. Bahkan, sejumlah katekis mengira bahwa orang meremehkan mereka karena keterampilan dan pendidikan mereka yang rendah (Lih. Katekis-Katekis Yangon Dikuatkan dengan Komitmen Moral dan Dukungan Finansial dalam http://www.mirifica.net/printPage.php?aid=3311).

Daniel Boli Kotan, dalam Praedicamus menyebutkan beberapa permasalahan katekis.
“Banyak kejadian terjadi di lapangan, bahwa ada katekis yang tidak bisa menjelaskan apa yang ditanyakan murid atau umat tentang inti ajaran iman Gereja Katolik. Apalagi tentang ajaran sosial Gereja, dll. Ada juga katekis yang tidak mampu menjelaskan pesan Kitab Suci berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dalam hidup umat, padahal Kitab Suci selalu aktual dengan peristiwa-peristiwa dalam hidup manusia. Tidak jarang kita mendengar ada katekis yang alergi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern”.
(Praedicamus Vol. VIII No. 26, April-Juni 2009, hal. 49).

2. Perumusan Masalah
Ada permasalahan mendasar pada katekis, antara lain berkaitan dengan keterampilannya. Katekis yang bermasalah akan sangat berpengaruh terhadap katekese. Padahal, katekese yang baik akan menjamin kehidupan iman yang baik. Untuk itu, perlulah kembali membaca dan mempelajari PUK, terutama bagian V bab II yang secara khusus membahas tentang pembinaan katekis. Secara konkrit, hasil pembacaan itu kemudian diterapkan pada pola pendidikan yang diselenggarakan di STKIP Widya Yuwana Madiun sebagai salah satu lembaga pencetak katekis. Jadi, perumusan masalah dalam kajian ini berupa pertanyaan pokok: Apakah pembinaan dan pendidikan calon katekis di STKIP Widya Yuwana Madiun sesuai dengan Petunjuk Umum Katekese?

3. Tujuan Kajian
Penulisan ini bertujuan untuk menggali bagaimana katekis harus dididik dan bagaimana pendidikan itu dilaksanakan di STKIP Widya Yuwana Madiun. Dari sini, diharapkan muncul usulan-usulan membangun demi perkembangan pembinaan dan pendidikan calon katekis di STKIP Widya Yuwana Madiun. Dengan pendidikan yang semakin baik, diharapkan katekis semakin bisa melaksanakan katekese dengan baik. Dengan demikian, citra katekese semakin sesuai dengan harapan Gereja.

4. Manfaat Kajian
Penulisan ini bermanfaat dalam usaha untuk mencermati pembinaan calon katekis. Dari sini, kurang lebih bisa ditemukan hal-hal pokok yang bisa diwujudkan dalam pendidikan calon katekis. Secara konkrit, tulisan ini bisa menjadi usulan demi perkembangan pendidikan calon katekis di STKIP Widya Yuwana Madiun. Harapannya, agar pembinaan dan pendidikan calon katekis semakin selaras dengan petunjuk yang diberikan Gereja.

5. Metode dan Sistematika Kajian
Penulisan karya tulis ini menggunakan studi pustaka. Studi pustaka adalah pengkajian terhadap berbagai teori yang ada dalam bahan-bahan pustaka tertulis yakni: buku-buku, dokumen-dokumen, kamus, majalah, notulen rapat, peraturan-peraturan, cetakan harian, artikel-artikel, dan sebagainya (Arikunto:1991:131) yang relevan dan berkaitan dengan bahasan penelitian. Bahan pustaka dalam karya tulis ini adalah buku-buku tentang katekis dan buku-buku yang membahas tentang program pembinaan dan pendidikan calon katekis.
Untuk kepentingan pengkajian topik, maka dalam karya tulis ini dibatasi pengkajian buku Petunjuk Umum Katekese pada bagian lima: Katekese dalam Gereja Partikular terutama pada bab II: Pembinaan bagi Pelayanan Katekese. Namun demikian, tetap terbuka kemungkinan bahwa pengkajian topik akan merujuk pula pada bagian lain dalam PUK.

Pada Bab I, dipaparkan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan kajian, manfaat kajian, metode dan sistematika kajian. Bab II, memaparkan secara terperinci mengenai isi Petunjuk Umum Katekese tentang pembinaan katekis. Bab III, memaparkan program pembinaan calon katekis di STKIP Widya Yuwana Madiun. Bab IV, memaparkan implementasi isi Petunjuk Umum Katekese dalam program pembinaan calon katekis di STKIP Widya Yuwana Madiun. Bab V, membahas kesimpulan dan saran berkaitan dengan pembahasan sebelumnya.

6. Pembatasan Istilah
Ada 3 (tiga) istilah yang digunakan dalam pembahasan karya tulis ini, yaitu: Buku Petunjuk Umum Katekese, Katekis, dan Calon Katekis.
6.1. Buku Petunjuk Umum Katekese
Buku Petunjuk Umum Katekese (PUK) menjadi referensi utama dalam karya tulis ini. PUK berisi petunjuk umum bagi penyelenggaraan katesese. Bagian pertama berisi rumusan sifat katekese yang sebenarnya. Bagian dua menyelidiki isi pesan Injil (fides quae). Bagian tiga tentang pedagogi iman. Bagian empat tentang mereka yang menerima katekese. Bagian lima menjabarkan katekese dalam Gereja Partikular.
6.2. Katekis
Cathechesi Tradendae (CT 66) mendefinisikan katekis sebagai berikut:
Tetapi istilah “katekis” terutama dipakai untuk para katekis di daerah Misi. Mereka lahir dalam keluarga yang sudah Kristen, atau suatu ketika masuk agama Kristen, menerima pendidikan dari para missionaris atau dari seorang katekis, kemudian membaktikan hidup mereka tahun demi tahun kepada katekese bagi anak-anak dan orang-orang dewasa di negeri mereka sendiri.

Definisi di atas lebih menekankan pada para katekis yang berada di daerah misi. Mereka mendapatkan pendidikan tentang katekese sebelum menjadi seorang katekis di negerinya.
Ensiklik Redemptoris Misio (RM 73) melukiskan para katekis sebagai “pekerja-pekerja khusus, saksi-saksi langsung, para pewarta yang sangat dibutuhkan, yang mewakili kekuatan utama komunitas-komunitas Kristiani, khususnya dalam Gereja-Gereja muda.” Kitab Hukum Kanonik kanon 785 mendefinisikan katekis sebagai “umat beriman kristiani awam yang sungguh-sungguh dibina dan yang unggul dalam kehidupan kristiani; di bawah bimbingan misionaris, mencurahkan tenaganya dalam pewartaan ajaran injil dan dalam perayaan-perayaan liturgi serta karya amal kasih.” Katekis adalah mereka yang dengan semangat merasul, mengambil peran dalam menyebarluaskan iman dan Gereja (bdk. AG 17).
Pernas Katekis se-Indonesia tahun 2005 menghasilkan rumusan identitas katekis sebagai berikut:
“Katekis adalah orang beriman yang dipanggil secara khusus dan diutus oleh Allah serta mendapat penugasan dari Gereja melalui missio canonica dari Gereja terutama dalam karya pewartaan Gereja untuk memperkenalkan, menumbuhkan, dan mengembangkan iman umat di sekolah dan dalam komunitas basis, baik teritorial maupun kategorial. Dalam tugas pewartaan itu, mereka berperan sebagai: penafsir, pewarta, pendamping, penggerak, fasilitator, dan pemberdaya yang professional. Katekis di sini adalah mereka yang bekerja secara purna waktu maupun yang paruh waktu. Di beberapa tempat, katekis juga berperan dalam melaksanakan tugas-tugas pastoral lainnya (diakonia, liturgia, koinonia).”
(Pernyataan akhir Pernas Katekis se-Indonesia pada tanggal 9 s.d. 12 Mei 2005 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta).

Dari beberapa pengertian mengenai katekis yang telah dipaparkan di atas, dapat ditentukan batasan istilah mengenai katekis, yaitu “kaum awam yang mengambil peran dalam pewartaan injil, mendapat penugasan dari Gereja, dipersiapkan dengan pendidikan khusus tentang katekese, dan bekerja secara paruh waktu (volunteer) maupun purna waktu (profesional)” (bdk. buku Pedoman untuk Katekis hal. 17).

6.3. Calon Katekis
Dalam karya tulis ini, yang dimaksud calon katekis adalah semua Mahasiswa yang terdaftar secara resmi dan sedang menempuh pembinaan dan pendidikan kateketik di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Widya Yuwana Madiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: